Tim Dosen Fakultas Kehutanan ULM Lakukan Pengabdian kepada Masyarakat di Sekitar Kawasan KHDTK

Banjarbaru, KHDTK ULM – Beberapa Tim Dosen dan mahasiswa Fakultas Kehutanan kembali melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di sekitar KHDT ULM Mandiangin. . Penyuluhan dan pelatihan teknik Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dengan pembuatan kompos blok yang berbahan dasar hijauan di ladang serta kotoran ternak sapi yang jumlahnya melimpah. Pengabdian ini dilaksanakan oleh Syamani,S.Hut,M.Sc, Dr.Ir.Daniel Itta,M.S, Susilawati,S.Hut,M.P, Ir.Fonny,R,M.P, Ir.Normela R,M.P, Eva P,S.Hut,M.Si. Kompos blok adalah suatu produk inovasi yang nantinya bisa menggantikan kompos biasa yang terkadang dalam pembuatan dan penggunaannya masih sangat terbatas dan kurang efektif. Kompos ini terbuat dari limbah hijauan yang ada di ladang dan limbah kotoran ternak.. Kelebihan kompos blok dari sisi waktu dan penggunaannya diharapkan dapat meniadakan aktivitas peladang membakar ladang ketika akan membuka ladangnya sehingga beralih dengan teknik membuka ladang dengan pengolahan kompos blok.

Kegiatan pelatihan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar ini sangatlah penting untuk disosialisasikan kepada masyarakat. Karena pada umumnya mereka membuka ladang dengan melakukan pembakaran yang dapat meluas jika didukung oleh kondisi lingkungan yang mendukung seperti suhu yang sangat panas di musim kemarau, kondisi bahan bakar (serasah) yang cukup kering dan angin yang bertiup kencang.

Dilihat dari sudut pandang ketahanan nasional, terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan ancaman bagi seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adanya karhutla mempunyai korelasi dengan pemanfaatan lahan yang ada, ataupun ketidakmampuan mengatasi masalah lahan mereka. Aktivitas ekonomi tidak bisa berjalan dengan baik dan sikap mental juga rendah. Di sisi lain tekanan dari negara luar juga semakin kuat, terutama dengan mengangkat isu lingkungan hidup dan kabut asap. Dampak dari hal tersebut menjadikan diplomasi Indonesia menjadi negatif, yang pada ahirnya memberikan kontribusi negatif pada rendahnya ketahanan nasional. Pada sisi lain, pola perokonomian masyarakat dan kebijakan pemerintah daerah, menenpatkan sektor pertanian sebagai tumpuan utama. Mayarakat dituntut untuk mengelola lahan tanpa melakukan pembakaran dan menjaga kawasan secara baik. Di sisi lain mereka juga diminta untuk meningkatkan kemampuan ekonominya. Dua sisi berlawanan inilah yang menjadi masalah karhutla di Indonesia.

Penyebab Karhutla 90% disebabkan oleh aktivitas manusia. Mata pencaharian masyarakat desa sekitar KHDTK ULM pada umumnya adalah peladang, petani tambak, peternak dan lain lain. Masyarakat Desa pada umumnya mempunyai kebiasaan dalam membuka dan membersihkan ladang yang akan ditanami dengan membakar, perbedaan biaya poduksi yang tinggi menjadi satu faktor pendorong penggunaan api dalam kegiatan persiapan lahan. Kegiatan pembakaran ini dilakukan karena murah dari segi biaya dan efektif dari segi waktu dan hasil yang dicapai cukup memuaskan. Hal ini dilakukan secara turun temurun dan sudah menjadi kebiasaan di masyarakat Desa (kearifan lokal). Kehidupan masyarakat Desa tidak lepas dari ternak dan penggembalaan. Ternak (terutama sapi) menjadi salah satu bentuk usaha sampingan di Desa sekitar KHDTK untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kebutuhan akan hijauan makanan ternak (HMT) dan areal penggembalaan merupakan satu hal yang harus dipenuhi. Untuk mendapatkan rumput dengan kualitas yang bagus biasanya masyarakat membakar kawasan padang rumput yang sudah tidak produktif. Setelah areal padang rumput terbakar akan tumbuh rumput baru yang kualitasnya lebih bagus.

Aktivitas pembakaran dan kegiatan di Desa sekitar KHDTK ULM dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

Pelibatan masyarakat menjadi langkah strategis dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (dalkarhutla). Untuk itu maka Tahura Sultan Adam membentuk kelompok mayarakat dalam wadah Masyarakat Peduli Api (MPA), untuk melibatkan masyarakat dalam setiap upaya dalkarhutla. MPA dibentuk di daerah daerah rawan karhutla untuk menjadi mitra dalam penanganan setiap karhutla yang terjadi. Anggota MPA merupakan warga yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai peladang. MPA yang terbentuk memerlukaan pembinaan agar sehingga kejadian karhutla dapat terpantau. MPA berbasis desa diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk meninggalkan pola pola perladangan bakar. Untuk itu diperlukan penyuluhan dan pelatihan teknik Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dengan pembuatan kompos blok yang berbahan dasar hijaun yang akan mereka bakar jika ladang akan dibuka serta kotoran ternak sapi yang jumlahnya melimpah di Desa.

Perusahaan yang melakukan aktivitas operasi di kawasan Hutan Produksi yang mengantongi Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) berkewajiban merehabilitasi DAS, Desa Tiwingan lama juga merupakan areal Rehabilitasi DAS yang dilakukan oleh perusahaan. Karena merupakan salah satu areal rehabilitasi DAS, di desa Tiwingan Lama juga terdapat kegiatan persemaian. Diharapkan kompos blok yang dihasilkan peladang dapat diakomodir oleh persemaian perusahaan.

Kompos blok adalah suatu produk inovasi yang nantinya bisa menggantikan kompos biasa yang terkadang dalam pembuatan dan penggunaannya masih sangat terbatas dan kurang efektif. Kompos ini terbuat dari limbah hijauan yang ada di ladang dan limbah kotoran ternak dengan bioaktivator fermentasi urine sapi. Sehingga pengomposan dapat berlangsung sangat cepat yaitu 1 (satu) minggu. Kelebihan kompos blok dari sisi waktu dan penggunaannya diharapkan dapat meniadakan aktivitas peladang membakar ladang ketika akan membuka ladangnya sehingga beralih dengan teknik membuka ladang dengan pengolahan kompos blok.