Tumbuhan alam berkhasiat obat telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Diperkirakan hutan Indonesia menyimpan potensi obat sebanyak 30.000 jenis, diantaranya 940 jenis telah dinyatakan berkhasiat obat, dimana sekitar 78 % masih diperoleh melalui pengambilan langsung dari hutan (Nugroho, 2010). Tumbuhan Obat saat ini masih digandrungi oleh masyarakat dikarenakan dipercaya memiliki efek samping yang sangat minim, harganya murah dan mudah dijangkau, dan khasiat sudah teruji baik dari pengalaman orang tua maupun telah diuji secara klinis.

KHDTK ULM sendiri memiliki tumbuhan obat yang tumbuh didalamnya sehingga hal ini yang mendasari salah satu mahasiswa Fahutan Eko Prabowo melakukan penelitian untuk mengetahui seberapa besar asosiasi yang terjadi antar tumbuhan obat maupun dengan tumbuhan lain sehingga kedepannya bisa dikelola dan dimanfaatkan dengan baik.
Pengambilan sampel dengan metode garis berpetak, yaitu dengan cara melompati satu atau lebih petak-petak dalam jalur tertentu. Karena plot yang berdekatan vegetasinya kemungkinan jenisnya sama dan penentuan titik pengamatan menggunakan metode purposive sampling.
Data yang diperoleh berupa jumlah jenis, nama jenis dan keliling batang kemudian akan diidentifikasi dan dianalisis untuk mendapatkan Indeks Nilai Penting. Asosiasi tumbuhan digunakan untuk menegetahui asosiasi antara tumbuhan obat dengan tumbuhan jenis lain dengan dilakukan perhitungan table kontangensi dua dimensi. Indek Keanekaragaman digunakan untuk mengetahui tingkat kestabilan suatu pertumbuahan dalam komunitas hutan dan indeks kemerataan untuk mengetahui kemerataan jumlah individu pada masing-masing jenis.

Komposisi jenis tumbuhan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus ditemukan 72 jenis tumbuhan. Jumlah jenis tumbuhan pada tingkat pertumbuhan semai terdapat 38 jenis, tingkat pancang ada 44 jenis, tingkat tiang 27 jenis dan pohon 39 jenis, tumbuhan obat yang ditemukan ada 12 jenis. Ada 12 jenis obat yang diasosiasikan dengan tumbuhan lain, dimana analisis didasarkan pada tiap – tiap tingkat pertumbuhan. Berdasarkan hasil tumbuhan obat yang berasosiasi rata-rata berasosiasi sangat nyata dengan tipe asoisasi positif. Jenis yang berasosiasi negative ditemukan pada tingkat semai dengan kombinasi Sapit undang dengan Patindis (Uruphyllum arborescens) dan Tretepan (Antidesma sp.) dengan asosiasi minimum -1. Tingkat pancang juga ditemukan asosiasi negative pada kombinasi Kapur naga (Callophylum saluatri) dan kombinasi Sapit undang dengan Sapat juga terjadi asosiasi minimum -1. Maka ini menandakan bahwa tumbuhan akan berasosiasi dengan tumbuhan lain, dimana akan ada adapatasi dalam pertumbuhan jenis tersebut yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Adapun dalam kondisi ini tumbuhan obat yang ditemukan dipetak pengamatan tidak banyak, diduga karena penggunaan tumbuhan obat. Lokasi penelitian yang sangat mudah diakses oleh masyarakat sehingga bila membutuhkan tumbuhan obat dapat dengan mudah diambil.
Hasil perhitungan dari INP didapatkan, Jenis Tengkook Ayam (Crpytocarya sp.) merupakan jenis paling dominan pada tingkat semai. Nilai KR sebesar 19,25%, nilai FR sebesar 12,801% dan nilai INP 32,051%. Tengkook ayam (Crpytocarya sp.) juga mendominasi tingkat pancang. Dimana nilai kerapatan 14,737% lebih besar dari nilai frekuensi 9,254%. Hasil pertumbuhan pada tingkat tiang dengan nilai INP paling tinggi yaitu jenis Lalangsatan. Nilai Kerapatan sebesar 16,1667% kemdian nilai frekuensi sebesar 11,539% dan nilai dominansi 17,723%. Jenis Alaban (Vitex pubescens) dengan INP paling tinggi pada vegetasi tingka pohon dengan nilai kerapatan relatif sebesar 13,924%, frekuensi relatif sebesar 12,717% dan dominansi relatif 8,088%.
Indeks keragaman pada tingkat semai, pancang, dan tiang jenis berturut turut 3,167; 3,397 dan 3,149 dengan kriteria keanekaragaman tinggi menurut Shannon-Weiner. Indeks keragaman tingkat tiang memiliki 27 jenis yang ditemakan dengan jumlah total individu 90 dengan besar nilai keanekaragaman 2,926 termasuk kriteria keanekaragaman sedang. Indeks kemerataan dari tabel diatas menurut Magguran (1988) untuk tingkat semai dengan indeks sebesar 0,529 termasuk cukup merata, hal yang samapun terjadi pada tingkat tiang. Pada tingkat pancang dengan indeks sebesar 0,650 termasuk cukup merata, begitu pula dengan tingkat pohon.
